Minggu, 03 Juni 2012

VARISES DAN GEJALANYA

Apakah varises itu?

Varises adalah pembuluh darah balik di bawah kulit atau selaput lendir (mukosa) yang melebar dan berkelok atau melingkar akibat kelainan katup dalam pembuluh darah tersebut. Biasanya varises terjadi pada tangan dan kaki, namun pada beberapa orang dapat terjadi di tempat-tempat lain seperti pada lambung, rektum (usus besar dekat anus), vagina, skrotum, dan vulva (bibir kemaluan). Gatal-gatal atau perubahan warna kulit menjadi kebiruan adalah ciri-ciri varises yang paling mudah dikenali.

Gejala varises vagina
  • Biasanya si ibu atau dokter mendeteksi dengan cara meraba vagina, jika terasa ada tonjolan maka bisa dipastikan ibu hamil mengalai varises vagina.
  • Ibu hamil mengeluh cepat lelah dan pucat.
Mengapa ibu hamil mengalaminya?

Sekitar 20-30% ibu hamil mengalami varises. Umumnya varises terjadi di daerah panggul dan anggota gerak bagian bawah. Hal ini karena pembuluh-pembuluh darah di daerah inilah yang berhubungan erat dengan rahim. Selain itu, kehamilan menyebabkan perempuan mengalami perubahan hormonal, terutama peningkatan hormon progesteron. Nah, perubahan hormonal inilah yang membuat elastisitas dinding pembuluh darah makin bertambah, sehingga dinding pembuluh darah (baik arteri maupun vena) makin lentur. Akibatnya, pembuluh darah jadi tambah besar dan melebar.
Pelebaran pembuluh darah ini perlu untuk memenuhi kebutuhan janin, agar aliran darah dan volume darah yang memang makin meningkat pada wanita hamil dapat tersuplai dengan baik, hingga pertumbuhan janin pun berlangsung normal.

Faktor risiko

Ada banyak faktor risiko (bukan penyebab) yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya varises selama kehamilan yaitu faktor keturunan, kegemukan (obesitas), sikap tubuh yang salah misalnya terlalu lama duduk atau lama berdiri, penggunaan pil KB atau pengobatan dengan estrogen, pemilihan pakaian hamil yang salah, misalnya terlalu ketat. Hamil lebih dari dua kali serta kehamilan di atas usia 40 tahun.

Pengaruh pada proses persalinan

Ibu hamil yang mengalami varises vagina, masih dapat melalui persalinan normal. Namun apabila varises pada vagina yang diderita cukup berat, biasanya dokter menyarankan tindakan operasi sesar untuk meminimalisasikan risiko pecahnya dinding pembuluh darah akibat trauma/laserasi jalan pada saat bayi lahir. Varises vagina jika lambat terdekteksi dapat mengakibatkan perdarahan yang menyebabkan kematian si ibu.

Tindakan pencegahan

Hingga saat ini belum ada alat khusus untuk mencegah varises vagina pada ibu hamil. Namun bila ibu hamil rajin mengangkat kaki dengan cara menaruhnya di atas bantal kala tidur-tiduran atau membaca buku, sedikit banyak bisa membantu melancarkan aliran darah. Cara ini terbukti dapat mengurangi beban yang harus ditopang kaki. Hindari penggunaan sepatu, sebaiknya dengan hak maksimal 2 cm agar aliran darah tak terhambat. Kemudian saat tidur, usahakan jangan berbaring hanya dalam satu posisi untuk menghindari tekanan pada pembuluh darah di satu tempat.


artikel diambil dari : 
http://www.resep.web.id/kehamilan/varises-vagina-saat-hamil.htm

Aturan Klasifikasi Baru pada Kasus Perdarahan Akibat Varises Esofagus

rekomendasi baku, tetapi para pasien dengan kadar kreatinin yang tinggi memiliki prognosis buruk sehingga membutuhkan intervensi agresif berupa pemasangan transjugular intrahepatic portosystemic shunt (TIPS) sedini mungkin. Temuan ini berdasarkan hasil sebuah studi di Spanyol, yang dipublikasikan di American Journal of Gastroenterology pada bulan Mei 2011. Tim peneliti menjelaskan bahwa seusai perdarahan akut akibat varises esofagus, para pasien yang berisiko tinggi bisa memperoleh manfaat dari keputusan segera untuk melakukan manajemen agresif tersebut, sementara pasien-pasien yang berisiko rendah tidak perlu mendapat intervensi demikian. Namun, risiko kematian pada beragam subkelompok pasien setelah mendapat terapi sesuai rekomendasi baku, yakni kombinasi obat vasoaktif dan ligasi endoskopik, tidak diketahui.     
Untuk menginvestigasi hal ini, dr. Salvador Augustin dan kolega (dari Hospital Universitari Vall d'Hebron, Barcelona) menganalisis hasil terapi pada 162 pasien sirosis dengan perdarahan akut akibat varises esofagus yang mendapat kombinasi terapi farmakologik (somatostatin plus antibiotik) dan ligasi endoskopik darurat. Pasien dengan derajat keparahan Child-Pugh A atau Child-Pugh B tanpa perdarahan aktif dikategorikan sebagai pasien risiko rendah; pasien dengan derajat keparahan Child-Pugh B dengan perdarahan aktif atau Child-Pugh C digolongkan sebagai pasien risiko tinggi.
Dari 162 pasien tersebut, 23 pasien (14%) menolak melanjutkan studi dan 26 pasien (16%) meninggal dalam 6 minggu pertama follow-up. Stratified mortality 6-minggu tercatat sebesar 7% pada kelompok risiko rendah dan 33% pada kelompok risiko tinggi. Namun, pada kelompok risiko tinggi, angka kematian pada subkelompok pasien dengan kadar kreatinin <1,0 mg/dL ternyata hampir sama dengan angka kematian pada kelompok pasien risiko rendah, yakni 8%; di lain pihak, angka kematian tercatat sebesar 46% pada subkelompok pasien dengan kadar kreatinin 1,0 mg/dL atau lebih.
Para peneliti menegaskan bahwa keputusan segera untuk melakukan TIPS dapat membawa perubahan positif bagi pasien-pasien dengan perdarahan akut akibat varises esofagus yang berisiko tinggi. "Pada studi observasional ini, kami menunjukkan bahwa kriteria yang dipakai sebelumnya untuk mengidentifikasi pasien-pasien tersebut boleh jadi tidak adekuat sehingga diperlukan aturan klasifikasi baru (Child-Pugh C dengan ambang batas kreatinin = 1,0 mg/dL) guna mengidentifikasi populasi risiko tinggi dengan lebih baik, dalam rangka mengoptimalkan penggunaan TIPS dalam praktik klinis dan untuk tujuan penelitian," dr. Salvador menyimpulkan.